Langkah 007 : Tidak Tahu Itu Jahil, Tahu Itu Beban

Bismillah dan salam alaik,

Sedikit huraian atau respon kepada rakan yang inginkan penjelasan yang lebih mendalam tentang,

“Orang yang jahil diibaratkan sebagai katak di bawah tempurung. Orang yang tidak mendapat taufiq diibaratkan seperti katak di bawah telangkup gelas. Orang yang sedar diibaratkan seperti orang yang melihat katak-katak yang terkurung.” –Nurazah

Bisik syaitan dalam hati manusia, “lebih baik menjadi orang yang tidak tahu daripada orang yang tahu. Kerna orang yang tidak tahu itu akan tidak dibebani dengan tanggungjawab. “

Jika begitu, lebih baik jadi ‘gila’ daripada ber’akal’. Lebih baik jadi yang tidak bertamadun daripada bertamadun. Lebih baik tidak bersekolah daripada bersekolah. Atau, lebih baik mati daripada hidup?

Rakan-rakan, orang yang berilmu itu boleh jadi dia inginkan ilmu itu dan mempelajarinya dengan bersungguh-sungguh ataupun dia mendapat ilmu itu daripada sumber persekitaran yang dipelajarinya secara tidak langsung. Tiada orang yang dapat mengawal dirinya untuk memilih samada ingin ‘tahu’ atau ‘tidak tahu’ melainkan dia memaksa dirinya untuk menutup telinga dan sengaja untuk berbuat-buat ‘tidak tahu’.

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa ina” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. [QS. an-Nisa’ (4) : 46]

Di dalam ayat ini, golongan Yahudi telah mengatakan, “Kami mendengar”, sedangkan hati mereka mengatakan, “Kami tidak mahu menuruti” dan kemudian mereka mengatakan, “Dengarlah”, tetapi hati mereka mengatakan, “Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengar (tuli)”

Maka, yang berdegil untuk menolak sesuatu ilmu itu adalah hati. Jika hati itu bersih, ilmu yang keruh akan ditolak dan ilmu yang jernih itu akan diterima dengan mudahnya.

Manakala mereka yang memang ‘tidak tahu’ ini semestinya tidak akan tahu apa yang mereka tidak tahu.

Ternyata, golongan yang tahu dan tidak tahu ini telah dipilih oleh Allah s.w.t.

Untuk tidak terus menjadi hamba Allah yang bodoh sehingga tidak kenal tuannya siapa, maka kita diwajibkan agar menuntut ilmu.

Tambahan buat rakan saya lagi, orang yang tidak berilmu bagaikan bangkai yang tidak bernyawa. Dan seperti yang kita telah pelajari, “tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad” dan “…biarlah sampai ke negeri cina”

Wallahua’lam.

4 thoughts on “Langkah 007 : Tidak Tahu Itu Jahil, Tahu Itu Beban

  1. “orang yang pendiam itu diibaratkan sebagai kilat, datang tanpa diduga, apabila ia menyambar, tak mampu kita mengelaknya.” -azizi-

  2. kpd Penulis : syukron!

    al-barq : jangan tersalah sambar sudah.

    Respon : Afwan dan tanyalah lagi jika tak serik!

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s